Cerita Dari Perjalanan Antara Hidup dan Mati dari Satelit Telkom

Cerita Dari Perjalanan Antara Hidup dan Mati dari Satelit Telkom
Cerita Dari Perjalanan Antara Hidup dan Mati dari Satelit Telkom
Jakarta - Satelit Telkom 1 telah melalui proses panjang untuk mengorbit dan memberikan layanan telekomunikasi dan siaran televisi lokal. Telkom menyiapkan satelit Telkom 1 sebagai pengganti Palapa B2R milik Indonesia yang akan berakhir masa aktifnya pada 2001.

Satelit Telkom 1 yang diproduksi oleh perusahaan asal Amerika, Lockheed Martin Commercial Space Systems dan selesai diproduksi pada Januari 1999.

Proses peluncuran pertama kali direncanakan akan dilakukan pada 27 April 1999 dan baru melucurkan satelit Telkom 1 pada 4 Agustus 1999 di Kourou, Guyana, Perancis. Rencananya, Telkom 1 meluncur bersamaan dengan satelit Asiastar milik Amerika. Namun karena ada masalah teknis dalam sistem panel surya, akhirnya satelit Telkom 1 diluncurkan terpisah.

Untuk peluncuran, Telkom menggandeng perusahaan peluncur satelit milik Eropa, Arienespace. Telkom 1 akhirnya berhasil diluncurkan dengan menumpang roket Ariane-42P. 

Kapasitas dan desainnya yang lebih besar dari satelit Palapa B2R membuat Telkom 1 disiapkan untuk bisa hidup hingga 15 tahun. Namun dalam proses operasional, Telkom dan Lockheed Martin melihat kondisi yang memungkinkan Telkom 1 bisa mengorbit lebih dari 15 tahun.

Telkom diketahui merogoh kocek 191,4 juta dolar Amerika untuk pembuatan dan peluncuran satelit Telkom-1.Biaya tersebut terdiri dari 84,8 juta dolar Amerika untuk pembuatan satelit Telkom-1 dari perusahaan Lockheed Martin, 90,1 juta dolar Amerika untuk kontrak peluncuran dengan perusahaan Arianespace, dan 1,6 juta dolar Amerika untuk pelayanan konsultasi dengen perusahaan asal Kanada, Telesat.

Mengorbit hingga 'pensiun dini'

Telkom 1 yang diposisikan mengorbit di 108 derajat Bujur Timur membuatnya bisa mencakup seluruh wilayah Indonesia, Asia Tenggara, hingga Australia bagian utara. Satelit ini memiliki konfigurasi 24 C-Band dan 12 extended C-Band transponder.

C-band digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan data tinggi seperti mesin ATM. Kondisi ini cocok dimanfaatkan untuk wilayah Indonesia yang kerap dilanda cuaca buruk.

Satelit Telkom 1 bukan hanya menyediakan layanan telekomunikasi Telkom dan anak perusahaan. Sektor publik, perbankan, hingga pemerintahan diketahui juga mengandalkan satelit Telkom 1 untuk menyediakan layanan.

Hanya saja, sejak Jumat (25/8) Telkom 1 diketahui mengalami masalah pada pendorong lapisan surya di sisi selatan. Hal ini kemudian diketahui akibat kesalahan manufaktur.

Imbasnya, ribuan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), saluran televisi dan radio mengalami gangguan sejak Jumat sore pukul 16.51 WIB. Tepat tiga hari setelahnya, Telkom menyatakan ada anomali pada satelit miliknya.

Untuk memperbaiki layanan yang bermasalah, Telkom diketahui melakukan pengalihan transponder ke satelit Telkom 2, Telkom 2S, dan satelit Apstar dan ChinaSat milik China dan Hong Kong. Proses migrasi ditargetkan rampung pada 10 September nanti.

Meski belum diketahui pasti penyebab anomali, Menkominfo Rudiantara turut angkat bicara dan menyatakan satelit Telkom 1 kemungkinan besar tidak bisa lagi beroperasinal.

"Satelit Telkom 1 tidak bisa diapa-apakan lagi, secara teknis sudah tidak akan berfungsi normal karena terjadi glitch di atas," ungkap saat ditemui di Grha XL, Jakarta, Selasa (29/8).

Kemarin (30/8) satelit Telkom 1 dinyatakan takkan dioperasionalkan lagi. Meski begitu, Telkom mengklaim data-data pengguna tetap aman dan pemerintah juga turut membantu mengamankan slot orbit yang nantinya diiisi oleh satelit Telkom 4.

Belakangan, perusahaan asal Amerika ExoAnalytic mengkalim telah menemukan jejak Telkom 1 lewat salah satu teleskop optik. Temuan puing-puing satelit diketahui berasal dari Australia Timur dalam keadaan hancur di orbit geostasioner.

Dalam video ditunjukkan objek angkasa yang diduga Telkom 1 seperti mengalami ledakan dan melepaskan fragmennya.


-  CNNINDONESIA  -
Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.